mahdiana1990

PSP 45

Clarias Batracus (Daskua)

December2
  1. I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Sebagian besar masyarakat Indonesia kekurangan gizi, khususnya protein akibat pola konsumsi yang belum memenuhi target. Pola konsumsi tersebut salah satunya masih rendahnya konsumsi ikan, padahal potensi perikanan Indonesia cukup besar yang  mampu menyumbang 65% dari total protein hewani. Seiring berjalannya waktu, kesadaran masyarakat akan pentingnya mengkonsumsi ikan yang semakin meningkat tetapi pertumbuhan jumlah ikan yang ada semakin lambat. Untuk memenuhi kebutuhan ikan yang semakin meningkat ini, sangat dibutuhkan kegiatan budidaya (Anonim 2008).

Budidaya ikan lele merupakan salah satu usaha yang dapat ditekuni karena permintaan yang selalu ada. Ikan ini banyak diminati, terutama untuk dijadikan lauk makanan. Dalam pembesaran ikan lele, tidak membutuhkan waktu lama, hanya sekitar 2 bulan. Memelihara ikan lele pun tergolong mudah. Karena tidak memerlukan air yang banyak dan tidak memerlukan air yang selalu bersih. Selain itu, ikan lele juga tahan terhadap penyakit, asalkan makanannya cukup.

Komoditas perikanan air tawar ini sebelumnya dipandang sebelah mata oleh masyarakat karena kesan menjijikan. Sekarang konsumen lele sudah menyebar luas dari desa hingga ke kota. Seiring melemahnya daya beli masyarakat akibat berbagai tekanan ekonomi, lele semakin diminati. Selain murah kandungan proteinnya tinggi. Perubahan status sosial komoditas lele ini telah merangsang tumbuhnya berbagai inovasi usaha dalam teknologi pengolahan pangan. Banyak nilai ekonomi yang timbulkan dari usaha lele, baik dari aspek off farm maupun sarana produksi, seperti produksi pakan, obat-obatan, material kolam, pemupukan, hingga pembenihannya. Karena potensinya yang besar, tak kurang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ikut mendukung pengembangan usaha berbasis lele dengan kampanye makan lele (Anonim 2008).

Permintaan akan ikan lele semakin meningkat. Karena harganya yang terjangkau dan kandungan akan protein yang cukup tinggi. Sangat dianjurkan untuk melakukan kegiatan budidaya lele, untuk memenuhi pasokan permintaan masyarakat (Anonim 2008).

1.2. Tujuan

Tujuan dari praktikum pembesaran lele (Clarias batracus) ini adalah agar mahasiswa dapat melakukan persiapan kolam untuk kegiatan budidaya ikan di kolam air tenang, penyebaran benih sesuai dengan prinsip penebaran, pemberian pakan sesuai kebutuhan ikan, dan pemanenan dan transportasi ikan hidup.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Biologi Lele (Clarias gariepinus)

Klasifikasi ikan lele menurut Saanin (1984) adalah sebagai berikut :

Kingdom         : Animalia

Sub-Kingdom : Metazoa

Filum              : Chordata

Sub-Filum       : Vertebra

Kelas               : Pisces

Sub-Kelas       : Teleostei

Ordo                : Ostariophysi

Sub-Ordo        : Siliuroidea

Famili             : Clariidae

Genus              : Clarias

Spesies            : Clarias gariepinus

Ikan lele dumbo (Clarias sp.) merupakan ikan hibrida antara ikan lele Afrika (Clarias gariepinus) dan lele Taiwan (C. fuscus). Hasil persilangan ini kemudian di introduksi ke Negara Indonesia sekitar tahun 1986. Karena ukuran tubuh yang lebih cepat besar dari lele lokal, lele ini kemudian diberi nama lele dumbo. Ikan lele dumbo merupakan jenis ikan yang paling banyak dibudidayakan di Indonesia saat ini karena pertumbuhannya yang relatif lebih cepat (Rustidja 1999),.

Ikan lele memiliki ciri-ciri kulit berlendir dan tidak bersisik, mempunyai pigmen warna hitam yang berubah menjadi pucat apabila terkena cahaya matahari. Mulutnya lebar, mampu memakan berbagai makanan, dari zooplankton renik sampai ikan dan pemakan bangkai. Sekitar mulut memiliki delapan sungut, yaitu maksila, mandibula luar dan mandibula dalam. Sirip tunggal terdapat pada punggung, ekor dan dubur, sedangkan sirip-sirip yang berpasangan terdapat pada dada dan perut. Ikan lele memiliki alat pernafasan tambahan dalam kondisi lingkungan perairan yang sedikit akan kandungan oksigen terlarut di sebut dengan arboresence (Suyanto, 1999).

Ikan lele adalah ikan yang hidup di perairan tawar. Secara alami ikan ini bersifat nokturnal, artinya aktif pada malam hari atau lebih menyukai tempat yang gelap atau minim akan cahaya, tetapi dalam usaha budidaya dapat diadaptasikan menjadi bersifat diurnal dengan pola makan di siang hari. Ikan lele termasuk ikan dalam golongan ikan pemakan segala (omnivora) tetapi cenderung pemakan daging (karnivora) (Suyanto, 1999).

2.2 Kelangsungan Hidup

Kelangsungan hidup adalah persentase jumlah ikan pada saat panen dibandingkan dengan jumlah ikan pada saat tebar (Effendie 1997). Pemeliharaan pada wadah terkontrol dapat mengurangi angka kematian, baik yang disebabkan oleh penyakit, pemangsa, atau hilang. Menurut Akhmad (1988), padat penebaran yang tinggi dapat menyebabkan kelangsungan hidup ikan rendah. Menurut Stickney (1979), selain mempengaruhi kelangsungan hidup, organisme yang dipelihara pada padat penebaran tinggi dapat meningkatkan pertumbuhan dan kelimpahan parasit dan penyakit.

Pada pemeliharaan dengan kepadatan tinggi, kondisi lingkungan yang berubah antara lain menurunnya konsentrasi oksigen terlarut di air dan meningkatkan limbah metabolisme, khususnya amonia (Herper and Pruginin 1978). Akibat secara langsung adalah menyebabkan kematian. Berkurangnya tingkat oksigen di air dapat menurunkan tingkat konsumsi pakan ikan, karena oksigen sangat dibutuhkan untuk sumber energi bagi jaringan tubuh, aktivitas pergerakan, dan aktivitas pengolahan makanan (Zonneveld et al 1991).

2.3 Pertumbuhan

Pertumbuhan didefinisikan sebagai perubahan ukuran panjang, bobot, dan volume dalam kurun waktu tertentu. Selanjutnya pertumbuhan juga mengandung arti perbanyakan sel dan bertambahnya ukuran sel tubuh (Effendi 1997). Pertumbuhan terjadi apabila ada kelebihan energi yang tersisa setelah digunakan untuk metabolisme, gerak, dan pemeliharaan tubuh.

Pertumbuhan dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal seperti genetik, umur, ketahanan penyakit, dan efisiensi pakan. Sedangkan faktor eksternal seperti kualitas air, pakan, persaingan, pemangsaan, serta penyakit dan parasit (Sikong 1982). Kepadatan ikan dalam kolam juga dapat mempengaruhi pertumbuhan tubuh ikan, karena ketika kepadatan ikan relatif rendah dan populasi pakan alami mencukupi maka pertumbuhan ikan berada dalam keadaan dalam keadaan maksimal (Herper dan Pruginin 1981).

Padat penebaran erat sekali hubungannya dengan produksi dan pertumbuhan ikan (Hickling 1971). Menurut Herper dan Pruginin (1981) peningkatan padat penebaran ikan tanpa disertai peningkatan jumlah pakan yang diberikan dan kualitas air  terkontrol akan menyebabkan penurunan pertumbuhan ikan (critical standing crop) dan jika sampai batas tertentu (carrying capacity) maka pertumbuhan ikan akan berhenti.

2.4 Konversi Pakan

Konversi pakan adalah kemampuan spesies akuakultur mengubah pakan mnjadi daging. Dalam bahasa praktis, konversi pakan adalah jumlah pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 kg daging ikan  atau rasio antara bobot pakan yang dibutuhkan dan bobot daging yang diproduksi atau Feeding Convertion Rate (FCR). Konversi pakan dapat pula diartikan sebagai kemampuan mengkonversi pakan murah menjadi daging yang bernilai tinggi. Semakin efisien pakan tersebut diubah menjadi daging sehingga semakin murah biaya produksi untuk memproduksi daging ikan. Konversi pakan tergantung pada spesies (kebiasaan makan, tingkat trofik, ukuran/stadia), kualitas air (oksigen, suhu, pH ,dan annonia). Penentuan konversi pakan didasarkankan pada perbandingan pakan buatan dalam bobot kering dengan bobot daging dalam bobot basah. (Effendie 2004).

Beberapa faktor yang mempengaruhi nilai FCR, diantaranya kualitas makanan, pengaturan air dan aerasi, larva yang kita tebar harus benar-benar mempunyai kualitas yang baik. Agar pakan dapat diserap dengan baik dan efisien, larva yang kita tebar harus benar-benar mempunyai kualitas yang baik. Kualitas makanan memegang peranan yang penting dalam usaha memperbaiki nilai FCR. pakan dengan kualitas superior yang dapat membantu petani untuk mendapatkan nilai FCR yang baik. pakan dengan kualitas superior yang dapat membantu petani untuk mendapatkan nilai FCR yang baik (Prabowo 2007).

Pengaturan air dan aerasi yang baik merupakan salah satu faktor untuk memperbaiki nilai FCR. Kondisi lingkungan yang kurang baik, di mana pergantian air kurang baik. Untuk mendapatkan nilai FCR yang baik juga diperlukan pemilihan lokasi dan perencanaan lahan yang baik. Persiapan kolam  yang kurang baik dapat mengakibatkan nilai FCR yang tinggi, karena pada lahan pembesaran, akan banyak terdapat predator (hewan pemangsa) dan kompetitor (hewan pesaing) (Anonim, 2008).

  1. III. BAHAN DAN METODE

3.1 Waktu dan Tempat

Waktu yang dibutuhkan untuk praktikum pembesaran lele ini sekitar 3 bulan, dimulai pada tanggal 18 Oktober 2009. Panen dilaksanakan tanggal 25 Desember 2009. Praktikum pembesaran ikan lele dilakukan di kolam pembesaran Departemen Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

3.2 Alat dan Bahan

Alat-alat yang diperlukan dalam kegiatan pembesaran lele adalah kolam pembesaran yang berukuran 20x10x1,5 m, timbangan besar (kg) dan kecil (gram), jala tebar untuk sampling, serok untuk mengambil ikan yang mati dan kotoran di permukaan air, ember, baskom, penggaris untuk menghitung panjang ikan, termometer, pH universal, plastik, dan karet gelang.

Bahan-bahan yang digunakan antara lain benih lele yang berukuran 7-8 cm, pakan berupa pelet terapung, kapur (CaCO3), pupuk kotoran ayam dan sekam, serta buah ,mengkudu sebagai obat dan kertas lakmus.

3.3 Prosedur Kerja

3.3.1 Persiapan Wadah

Dalam praktikum pembesaran ikan lele ini digunakan wadah berupa kolam dengan ukuran 20x10x1.5 m. Sebelum digunakan, wadah perlu dipersiapkan terlebih dahulu. Proses persiapan wadah meliputi pengeringan, pembersihan, pembilasan, pengisian air, dan pengamatan instalasi. Pengeringan bak dilakukan dengan cara dibuang terlebih dahulu seluruh air yang ada di bak dengan dibukanya outlet. Pembersihan bak dilakukan dengan cara, bak dicuci sampai bersih menggunakan sikat lantai dan dibilas sampai bersih. Pengisian air dilakukan dengan cara, air dialirkan dari sumber air sampai kolam terisi hampir penuh. Persiapan wadah ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang optimal bagi benih ikan, serta menghilangkan/mengurangi potensi hama/penyakit.

3.3.2 Pemupukan

Sebelum benih dimasukkan ke dalam kolam pembesaran, kolam harus dipersiapkan dengan baik yaitu dengan diberi pupuk. Pemupukan dilakukan guna menumbuhkan pakan alami berupa fitoplankton. Pupuk yang digunakan adalah pupuk yang berasal dari campuran kotoran ayam dan sekam yang terbungkus dalam karung. Digunakan 4 karung pupuk dengan bobot tiap karungnya 10 kg. Tipa karung diletakkan di sudut kolam, kemudian ditenggelamkan. Karung harus tetap tertutup agar pupuk tidak menyebar di kolam dan dapat menyebabkan air terkontaminasi. Ditunggu beberapa hari sebelum benih ikan lele siap ditebar.

3.3.3 Penebaran Benih

Benih lele yang ditebar ke kolam pembesaran sebanyak 46 kg, berjumlah 11067 ekor benih. Sebelum ditebar, benih ikan lele harus diaklimatisasi terlebih dahulu. Aklimatisasi dilakukan dengan cara menyamakan suhu yang ada di dalam ember yang berisi benih ikan dengan suhu air kolam. Dengan perendaman ember yang berisi benih kedalam kolam selama 10-15 menit agar suhunya sesuai dengan air kolam sehingga ikan tidak stress ketika berada di kolam. Ember ditenggelamkan agar ikan keluar sendiri.

3.3.4 Sampling

Sampling dilakukan untuk pemantauan populasi dan pertumbuhan ikan, yaitu dengan pengambilan sejumlah contoh ikan kemudian diukur panjangnya dan bobot tubuhnya. Sampling dilaksanakan selama seminggu sekali terhitung sejak tebar sampai panen. Sampling dilakukan dengan pengambilan contoh ikan sebanyak 30 ekor dengan menggunakan jala tebar pada 3 titik yang berbeda dan tiap titik diambil 10 contoh ikan. Ikan yang diambil diukur panjang dan ditimbang beratnya. Data bobot contoh ikan digunakan untuk menduga bobot biomassa, laju pertumbuhannya, jumlah populasi ikan yang ada, dan dapat digunakan untuk mengentukan jumlah pakan yang akan diberikan sebelum sampling berikutnya.


3.3.5 Pemberian Pakan

Pemberian pakan pada benih ikan lele tidak diberikan secara lagsung setelah benih ditebar di kolam pembesran. Pakan diberikan beberapa hari setelah benih ditebar. Jumlah pakan yang diberikan disesuaikan dengan bobot biomasa benih saat tebar dengan FR sebesar 8%. Pakan yang diberikan berupa pelet terapung. Frekuensi pemberian pakan sebanyak 3 kali dalam sehari yaitu pada pagi pukul 08.00, siang hari pukul 13.00, dan malam hari pukul 20.00. karena ikan lele merupakan jenis hewan nokturnal yaitu beraktivitas di malam hari, maka perlu diberi pakan yang lebih banyak saat malam hari.

3.3.6 Penanganan Kualitas Air

Kualitas lingkungan hidup yang optimal bagi pertumbuhan benih ikan lele harus tetap terjaga dengan pengeloalaan kualitas air. Penanganan kualitas air dilakukan dengan pergantian air, pemupukan, pengaturan ketinggian air, dan penutup[an pintu keluar air. Pergantian air dimaksudkan untuk membuang zat-zat yang bersifat racun bagi ikan, diantaranya feses, NH3, NO2, dan CO2. air yang dibuang diganti dengan air baru yang dimasukkan melalui inlet. Pengaturan ketinggian air dimaksudkan untuk menciptakan kondisi suhu yang sesuai dan stabil bagi benih ikan serta untuk pengaturan cahaya matahari yang masuk ke akolam. Dilakukan pula pengecekan suhu da pH setiap harinya selama masa pembesaran.

3.3.7 Pemanenan

Pemanenan ikan lele dilakukan saat ukuran lele sudah sesuai dengan ukuran konsumsi. Hal pertama yang dilakukan saat pemanenan adalah penyurutan air kolam secara bertahap sampai air yang tersisa hanya di kamalir. Kemudian ikan lele yang berada di kalamir digiring ke arah yang paling rendah pada pintu pengeluaran sampai semuanya terkumpul. Lele ditangkap dengan menggunakn alat tangkap secara hati-hati. Lele ditampung dalam bak dan dibiarkan beberapa saat sebelum diangkut. Ikan lele disortir untuk memisahlkan ukuran-ukuran ikan yang berbeda. Setelah disortir ikan lele ditimbang terlebih dahulu sebelum dimasukkan kedalam mobil pengangkutan untuk dijual.

3.4 Data Analisis

3.4.1 Tingkat Kelangsungan Hidup

Tingkat kelangsungan hidup adalah persentase ikan yang hidup dari jumlah seluruh ikan yang dipelihara dalam suatu wadah. Kelangsungan hidup ikan terutama pada masa larva sangat ditentukan oleh ketersediaan makanan. Ikan akan mengalami kematian apabila dalam waktu singkat tidak berhasil mendapatkan makanan. Rumus tingkat kelangsungan hidup (Survival Rate) adalah :

Keterangan:

SR = Tingkat kelangsungan hidup (%)

Nt  = Populasi ikan akhir (ekor)

No = Populasi ikan awal (ekor)

3.4.2 Konversi Pakan

Konversi pakan atau Feeding Convertion Rate (FCR) adalah jumlah pakan yang diperlukan untuk menambah 1 kg bobot daging ikan. Untuk mencari besarnya FCR digunakan rumus berikut ini :

Keterangan:

FCR = Konversi pakan

Pa = Jumlah pakan yang diberikan (kg)

Wi = Bobot rata-rata individu waktu ke-i (kg)

Wo = Bobot rata-rata individu waktu ke-0 (kg)

Wm = Biomassa ikan yang mati (kg)

3.4.3 Laju Pertumbuhan Harian

Laju pertmbuhan harian atau Survival Growth Rate (SGR) adalah laju petumbuhan yang dipantau dari ukuran tebar sampai ukuran panen dan laju ini dapat dicari dengan menggunakan rumus :

Keterangan :

SGR    =  Pertumbuhan spesifik (%)

Wt       =   robot rata-rata pada hari ke-t (g/ekor)

Wo      =   Robot rata-rata pada hari ke-0 (g/ekor)

t           = Lama pemeliharaan (hari)

3.4.4 Pertumbuhan Mutlak

Pertumbuhan robot didefinisikan sebagai perubahan ikan dalam berat, usuran, maupun volume seiring dengan berubahnya waktu. Pertumbuhan mutlak atau Growth Rate (GR) adalah pertumbuhan robot rata-rata tiap hari. Untuk mencari besarnya nilai GR digunakan humus berikut ini :

Keterangan:

GR = Pertumbuhan mutlak (g/hari)

Wt = Bobot rata-rata pada hari ke-t (g/ekor)

Wo = Bobot rata-rata pada hari ke-0 (g/ekor)

t   = Lama pemeliharaan (hari)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.1.1 Tingkat Kelangsungan Hidup

Tabel 1. Tingkat Kelangsungan Hidup

Departemen SR
BDP 88,7
MSP 82,3
THP 79,6
PSP 88,6
ITK 85,9

Gambar 1. Grafik Tingkat Kelangsungan Hidup Lele Tiap Departemen

Berdasarkan grafik di atas terlihat tingkat kelangsungan hidup yang paling tinggi terdapat pada departemen BDP yaitu sebesar 88,7% kemudian diikuti oleh PSP, ITK, MSP, dan THP berturut-turut dengan SR sebesar 88,6%, 85,9%, 82,3%, dan 79,6%.

4.1.2 Laju Pertumbuhan Harian

Tabel 2. Laju Pertumbuhan Spesifik (SGR)

Departemen Sampling ke
1 2 3 4 5 6 7 8 9
BDP 8.07 10.83 8.82 8.62 8.18 Panen
MSP 10.54 7.71 8.37 7.39 7.23 6.07 5.53
THP 8.39 8.42 8.16 7.31 6.49 3.95 4.66 2.08
PSP 10.22 8.6 8.6 7.78 Panen
ITK 10.27 8.93 8.78 8.09 7.74 6.79 6.15 5.87

Gambar 2. Laju Pertumbuhan Harian Lele Tiap Departemen

Berdasarkan grafik laju pertumbuhan harian diatas, diketahui laju pertumbuhan harian yang paling stabil terdapat pada departemen BDP dengan laju pertumbuhan harian antara 8,18-10,83,  kemudian diikuti oleh departemen PSP dengan laju pertumbuhan harian antara 7,78-10,22, departemen ITK laju pertumbuhan harian antara 5,87-10,27, departemen MSP dengan laju pertumbuhan harian antara 5,53-10,54, dan yang terendah pada departemen THP dengan laju pertumbuhan harian antara 2,08-8,39.

4.1.3 Pertumbuhan Mutlak

Table 3. Pertumbuhan Mutlak (Growth Rate)

Departemen Sampling ke
1 2 3 4 5 6 7 8
BDP 0.54 1.13 1.59 2.24 2.71
MSP 0.75 0.78 1.32 1.38 1.75 1.86 1.91
THP 0.57 0.97 1.38 1.49 1.42 1.36 2.14 1.38
PSP 0.56 0.75 1.65 1.71
ITK 0.5 0.77 1.16 1.46 1.78 1.5 1.59 1.83

Gambar 3. Grafik Pertumbuhan Mutlak

Berdasarkan grafik pertumbuhan mutlak diatas diketahui pertumbuhan yang tertinggi pada departemen BDP karena pertumbuhannya yang terus meningkat. Hal ini juga terjadi pada departemen MSP dan PSP. Sedangkan pada departemen THP dan ITK pertumbuhan mutlaknya naik turun.

4.1.4 Konversi Pakan

Table 4. Konversi Pakan

Departemen Jumlah Pakan Biomas Panen Biomas Mati FCR EP
BDP 386.57 391.1 28.9 1.05 95.48
MSP 574.6 521 10.02 1.03 95.55
THP 698.06 421.1 9.70785 2.27 44.08
PSP 645.35 425 4.85036 1.65 60.52
ITK 724.1 456 6.70378 1.71 58.59

Gambar 4. Grafik Konversi Pakan Ikan Lele Tiap Departemen

Berdasarkan grafik konversi pakan diatas, nilai FCR terbesar pada departemen THP sebesar 2,27, kemudian diikuti oleh departemen ITK, PSP, BDP dan MSP dengan nilai FCR secara berturut-turut 1,71, 1,65, 1,05, dan 1,03.

4.1.5 Hasil Panen

Tabel 5. Hasil Panen

Departemen Hasil Panen (kg)
Sortiran Daging Big Size Total
BDP 9.1 265 117 391.1
MSP 59 401 61 521
THP 18 318.5 84.6 421.1
PSP 25 315 85 425
ITK 98 333 25 456

Berdasarkan tabel hasil panen diatas, diketahui total hasil panen terbanyak terdapat pada departemen MSP yaitu sebesar 521 kg, diikuti oleh departemen ITK, PSP, THP, dan BDP dengan total panen secara berturut-turut sebesar 456 kg, 425 kg, 421,1 kg, dan 391 kg.

4.1.6 Analisa Usaha

Table 6. Tabel Analisa Usaha

Departemen Pemasukan (Rp) Pengeluaran (Rp) Keuntungan (Rp)
BDP 3.667.900 3.537.133 130.767
MSP 5.029.000 3.832.000 1.197.000
THP 4.023.800 6.253.733 -2.229.933
PSP 4.055.000 5.902.307 -1.847.307
ITK 4.412.000 6.427.342 -2.015.342

Berdasarkan tabel analisa usaha diatas diketahui keuntungan hanya terjadi pada dua departemen. Nilai keuntungan terbesar terdapat pada departemen BDP yaitu sebesar Rp 130.767,00 kemudian diikuti oleh departemen MSP sebesar Rp 1.197.000,00. Sedangkan pada ketiga departemen yang lain terjadi kerugian. Kerugian terkecil dialami oleh departemen PSP sebesar Rp 1.847.307,00, diikuti oleh departemen ITK sebesar Rp 2.015.342,00, dan kerugian terbesar dialami oleh departemen THP yaitu sebesar Rp 2.229.933,00.

4.1.7 Analisa Kualitas Air

Tabel 7. Data Kualitas Air

Departemen Lokasi Parameter
DO pH Kesadahan (CaCO₃) Alkalinitas Amoniak (mg/l) Nitrit (mg/l)
BDP In 7,2 6,64 37,79 160 0,12 0,043
out 7,1 6,63 47,25 176 - 0,039
MSP In 6,9 6,85 42,52 172 0,05 0,034
out 7 6,93 47,25 200 0,08 0,03
THP In 6,6 6,84 47,25 60 0,29 0,039
out 6,6 6,92 70,87 172 0,32 0,066
PSP In 6,6 6,61 94,49 76 0,15 0,044
out 6,6 6,99 89,76 104 0,4 0,059
ITK In 6,6 7,76 94,49 72 0,29 0,05
out 6,6 6,81 94,49 80 0,28 0,055

Berdasarkan tabel diatas diperoleh Departemen BDP memiliki kandungan DO paling besar daripada departemen lain yaitu pada inlet sebesar 7,2 dan outlet sebesar 7,1. Nilai pH pada inlet yang paling besar terdapat pada ITK sebesar 7,76 dan pada outlet yang paling besar terdapat pada PSP sebesar 6,99. Untuk parameter lainnya PSP dan ITK memiliki nilai kesadahan pada inlet yang paling besar dibandingkan dengan departemen lain yaitu sebesar 94,49, sedangkan di outlet ITK yang memiliki nilai kesadahan yang paling besar yaitu sebesar 94,49. Nilai alkanitas pada terbesar terdapat pada MSP dengan nilai alkanitas pada inlet dan outlenya sebesar 172 dan 200. Kandungan amoniak yang terbesar terdapat pada THP dengan kandungan amoniak pada inlet dan outletnya sebesar 0,29 dan 300. Kandungan nitrit yang terbesar yaitu pada PSP di inlet sebesar 0,044 dan di outlet sebesar 0,66 pada THP.

4.2 Pembahasan

Kelangsungan hidup adalah persentase jumlah ikan pada saat panen dibandingkan dengan jumlah ikan pada saat tebar (Effendie 1997). Berdasarkan perbandingan tingkat kelangsungan hidup (SR) dari tiap departemen diperoleh nilai SR tertinggi pada depatemen BDP yaitu sebesar 88,7% dan terendah pada departemen THP sebesar 79,6%. Nilai SR yang kecil pada departemen THP dapat disebabkan oleh kepadatan jumlah ikan lele di kolam. Padat penebaran yang tinggi dapat menyebabkan kelangsungan hidup ikan rendah (Akhmad1988). Menurut Stickney (1979), selain mempengaruhi kelangsungan hidup, organisme yang dipelihara pada padat penebaran tinggi dapat meningkatkan pertumbuhan dan kelimpahan parasit dan penyakit. Selain itu pemberian pakan yang kurang terkontrol dan tidak tepat waktu dalam kepadatan yang tinggi dapat meningkatkan sifat kanibalisme ikan lele.

Laju pertumbuhan harian di awal kegiatan pembesaran mengalami peningkatan yang cukup besar, terlihat saat sampling minggu ke-2 dan ke-3 nilai SGR besar. Tetapi berjalan sampai sampling terakhir nilai SGR mengalami penurunan. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan ikan yang sedikit lambat karena pertumbuhannya sudah mencapai titik puncak. Titik puncak dari pertumbuhan dari suatu stadia ikan yang kemudian mengalami penurunan pertumbuhan yang berakibat turunnya pertumbuhan spesifiknya disebut dengan CSC (Effendi, 2004). Pertumbuhan mengalami penurunan karena pada hari terakhir sampling ikan sudah mencapai titik CSC (critical standing crops).

Pertumbuhan mutlak atau Growth Rate (GR) adalah perubahan ikan dalam berat, ukuran, maupun volume seiring dengan berubahnya waktu. Dari hasil kegiatan pembesaran diketahui GR yang tertinggi terjadi pada departemen BDP, dari awal kegiatan pembesaran terjadi pertambahan panjang yang cukup pesat dan pertumbuhan terus meningkat, sedangkan GR yang kurang baik terjadi pada departemen THP dan ITK, karena pertumbuhan mutlaknya naik turun. Pertumbuhan mutlak yang rendah dapat disebabkan oleh padat penebaran yang tinggi, pengaruh kualitas air, faktor keturunan, serta makanan yang tersedia bagi ikan.

Berdasarkan grafik SGR dan GR dapat diketahui waktu panen yang ideal. Bila dilihat dari grafik SGR waktu panen yang ideal adalah saat pertumbuhan ikan mengalami penurunan, karena bila terus dilakukan pembesaran akan membutuhkan jumlah pakan yang banyak tanpa diringi dengan pertumbuhan tubuh yang begitu pesat. Bila dilihat dari grafik GR, waktu panen yang ideal adalah saat pertumbuhan ikan sudah mencapai titik puncaknya. Hal ini dapat terlihat pada sampling terakhir ikan. Pertumbuhan mengalami penurunan karena pada hari terakhir sampling ikan sudah mencapai titik CSC (critical standing crops) (Effendi, 2004).

Pakan merupakan hal yang sangat penting dalam kegiatan budidaya karena pakan diperlukan untuk pemeliharaan kondisi tubuh, aktivitas, pertumbuhan, dan reproduksi. Menurut Effendie (2004) konversi pakan  atau Feeding Convertion Rate (FCR) adalah banyaknya pakan yang dihabiskan untuk menambah 1 kg bobot ikan. Semakin besar nilai FCR, maka pakan yang yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 kg daging pun semakin banyak. Dari hasil kegiatan pembesaran diperoleh nilai FCR yang paling besar terdapat pada departemen THP sebesar 2,27. Hal ini berarti dibutuhkan pakan sebanyak 2,27 kg untuk menambah 1 kg bobot tubuh ikan. Sedangkan nilai FCR terkecil terdapat pada departemen BDP sebesar 1,05. hal ini berarti dibutuhkan pakan sebanyak 1,05 kg untuk menambah 1 kg bobot tubuh ikan.

Hasil panen merupakan penentuan akhir keberhasilan suatu kegiatan budidaya. Dari hasil pembesaran, departemen MSP memperoleh total hasil panen tertinggi yaitu sebesar 521 kg, sedangkan total hasil panen terendah diperoleh departemen BDP yaitu sebesar 391.1 kg. Hasil panen yang rendah pada departemen BDP disebabkan oleh tingkat kematian yang tinggi, sehingga bobot ikan yang dihasilkan rendah. Faktor lain yang menyebabkan berbedanya hasil panen tiap departemen adalah padat tebar yang berbeda tiap departemen, perawatan yang berbeda, faktor lingkungan misalnya (cuaca, penyakit, hama), dan ikan belum mencapai size yang memadai untuk dipanen.

Kualitas air sangat berpengaruh besar dalam kelangsungan hidup ikan lele. Parameter kualitas air dinantaranya adalah kandungan DO, pH, kesadahan, alkanitas, kandungan amoniak, dan nitrit. Dilihat dari data kualitas air, departemen BDP sebesar 7,1-7,2 mg/ml. kandungan oksigen di kolam bergantung kepada bahan organic terlarut dan pengaruh suhu. Kandungan oksigen sangat penting guna menunjang kelangsungan hidup ikan, ikan lele dapat bertahan di lingkungan perairan yang mengandung oksigen yang rendah karena memiliki organ tambahan berupa arborescent organ. Untuk parameter pH hampir di semua departemen nilai pH masih dalam taraf normal. Ikan lele dapat hidup pada kisaran pH 6,5-8,5 (Handojo et al. 1986). Dilihat dari data kualitas air, departemen BDP memiliki kandungan pH yang stabil yaitu sebesar 6,63-6,64.

Dalam kegiatan budidaya tidak terlepas dari perhitungan biaya yang sudah dikeluarkan serta nilai keuntungan yang diperoleh. Bila dilihat pada tabel analisis usaha, keuntungan hanya didapat oleh dua departemen. Departemen BDP memperoleh keuntungan sebesar Rp 130.767,00 dan departemen MSP sebesar Rp 1.197.000,00. Sedangkan pada departemen THP, PSP, dan ITK mengalami kerugian. Kerugian terkecil dialami oleh departemen PSP sebesar Rp 1.847.307,00 dan kerugian terbesar dialami oleh departemen THP yaitu sebesar Rp 2.229.933,00.

Pada analisis usaha departemen BDP menghasilkan jumlah biomassa panen paling kecildiantara departemen lainnya, tetapi menghasilkan keuntungan yang paling besar. Hal ini disebabkan departemen BDP tepat waktu panennya dan FCR yang kecil, sehingga tidak memmbutuhkan biaya yang banyak untuk pakan. Sedangkan pada departemen THP, lewat waktu panennya sehingga harga jualnya pun menurun karena Big Size yang banyak. Selain itu karena waktu panen yang sudah lewat mengakibatkan nilai FCR pada kedua departemen ini tingg, sehiingga membutuhkan biaya yang banyak untuk membeli pakan.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Dalam praktikum pembesaran ikan lele ini, secara umum  mahasiswa dapat melakukan persiapan kolam untuk kegiatan budidaya ikan di kolam air tenang, namun masih banyak kekurangan dalam pelaksanaannya. Mahasiswa juga dapat melakukan penyebaran benih sesuai dengan prinsip penebaran, walaupun masih terdapat kekurangan saat melakukannya di lapangan. Hal ini dikarenakan oleh pengetahuan yang belum sepenuhnya menguasai prosedur kerja dengan sebaik mungkin. Dalam pemberian pakan pun, mahasiswa sudah dapat memberikan pakan kepada ikan sesuai kebutuhannya. Saat kegiatan pemanenan sudah mengikuti prosedur yang benar. Transportasi ikan hidup juga dapat dilakukan oleh mahaasiswa dengan baik.

5.2 Saran

Dalam pelaksanaan praktikum diperlukan kerja sama antara praktikan, asisten praktikum dan para staf yang terlibat di dalamnya. Diharapkan dalam praktikum-praktikum selanjutnya dapat menjadi lebih baik lagi. Diperlukan keseriusan dalam melaksanakan praktikum berkutnya, agar hasil yang diperoleh maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Kegiatan Budidaya Ikan. www.hobiikan.com [22 November 2009]

Akhmad. 1988. Pengaruh Pemberian Ransum LNI/PI-VW/P40/C27/C:P 6,80 Perkadar Protein 40% sebanyak 32,53,72, dan 92%. Bobot Biomassa terhadap Pertumbuhan Pasca Larva Udang Windu Penaeus Monodon. Fabricus pada Padat Penebaran Awal 75 ekor PL-20 per Meter Persegi. [Karya ilmiah]. Bogor : Program Studi Teknologi dan Manajemen Akuakultur, Departemen Budidaya perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Bardach et al. 1972. Aquaculture : The Farming and Husbandry of Fresh Water and Marine Organism. New York : John Willey and Sons.

Effendie. 1997. Biologi Perikanan. Yogyakarta : Yayasan Pustaka Nusantara.

Effendie. 2004. Pengantar Akuakultur. Jakarta : Penebar Swadaya.

Herper and Pruginin. 1978. Commercial Fish Farming with Special Reference to Fish Culture in Israel. New York : John Willey and Sors.

Hickling CF. 1971. Fish Culture. London : Faber and Faber.

Prabowo W. Pengaruh Dosis Bacitracine Methyle Disalisilat (BMD) dalam EGG Stimulant Yang Dicampur Dengan Pakan Komersil terhadap Produktivitas Ikan Lele sangkuriang. Skripsi. Departemen Budidaya Perairan, Institut Pertanian Bogor.

Rustidja. 1999. Asal Usul Lele Dumbo. www.iptek.net.id. Diakses 28 November 2009.

Saanin, H.1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Bandung : Binacipta.

Sikong M. 1982. Beberapa Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi Produksi Biomassa Udang Windu. [Skripsi]. Bogor: Departemen Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.

Stickney. 1979. Principle of Warmwater Aquaculture. New York : John Willey and Sors Inc. A Willey-Interscience Publicator.

Zonneveld et al. 1991. Prinsip – Prinsip Budidaya Ikan. Terjemahan. Pt. Gramedia Pustaka Jakarta. 318 hal.

Pakaja

December2
  1. 1. Definisi dan Klasifikasi

Pakaja adalah alat perangkap yang berukuran lebih kecil terdiri dari bagian badan (body), mulut (funnel), dan pintu serta cara oengoperasiannya dengan dihanyutkan (Subani dan Barus 1989). Menurut data Statistik Perikanan Tangkap Indonesia jermal termasuk ke dalam klasifikasi alat tangkap perangkap dan penghadang (traps and guiding barriers) (Diniah 2008).

  1. 2. Konstruksi Alat Penangkapan Ikan

Pakaja terbuat dari bahan bambu. Pakaja memiliki bentuk kontruksi silindris yang diatur dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari beberapa buah pakaja yang dirangkaikan, biasanya terdiri dari 20-30 buah. Perangkaian pakaja tersebut menggunakan tali penonda (Subani dan Barus 1989). Pada mulut pakaja terdapat atraktor yang berfungsi sebagai tempat menempelnya plankton yang dari pakaja adalah mulut. Menurut kelompok kami parameter utamanya adalah mulut bubu.

  1. 3. Kelengkapan dalam Unit Penangkapan Ikan

3.1 Nelayan

Nelayan yang terlibat dalam pengoperasian pakaja berjumlah 4-6 orang dan dipimpin oleh seorang Juragan (Hutomo 1985 dalam Rizal 1996).

3.2 Kapal

Perahu yang biasa digunakan dalam pengoperasian pakaja adalah perahu Bago dengan panjang 4-6 meter, lebar 2-3 meter, tinggi 1-2 meter dengan lunas berbentuk huruf v (Rizal 1996).

  1. 4. Metode Pengoperasian Alat

Jumlah pakaja dalam satu unit penangkapan terdiri dari satu kelompok yang berisi 15-20 buah pakaja. Antara satu pakaja dengan pakaja lainnyya dirangkai dengan tali. Pada saat penurunan pakaja, yang perlu diperhatikan adalah arah haluan perahu yang tergantung pada arah angin. Apabila angin bertiup dari arah timur, maka haluan perahu diarahkan ke utara dan pakaja diturunkan dari sisi sebelah kiri. Antara pakaja dengan perahu dihubungkan dengan tali utama (Hutomo 1985 dalam Rizal 1996).

Deretan pakaja pertama yang diturunkan ke air langsung diikat pada bagian mulut pakaja, yang disusul dengan deretan pakaja berikutnya sehingga membentuk kelompok pakaja. Tali pengikat dihubungkan dengan tali utama. Jarak antar bubu yang satu dengan yang lainnya adalah 1 meter dengan panjang 1 unit kira-kira 20-30 meter. Jarak antara perahu dengan pakaja biasanya antara 100-200 meter (Hutomo 1985 dalam Rizal 1996).

Selama pakaja berada di laut, jangkar perahu tidak diturunkan sehingga pakaja dan perahu terbawa oleh arus. Setelah kira-kira 5-6 jam di laut, pakaja diangkat. Pengangkatan dilakukan dengan mendorong perahu ke arah pakaja, kemudian pakaja dinaikkan ke atas perahu melalui lambung kiri. Telur ikan terbang yang menempel pada rumput laut atau daun kelapa/pisang diambil pada setiap kali pengangkatan (Hutomo 1985 dalam Rizal 1996). Menurut kelompok kami parameter utamanya adalah mulut bubu.

  1. 5. Daerah Pengoperasian

Pakaja dioperasikan di permukaan perairan. Daerah pengoperasian pakaja di Indonesia diantaranya adalah Sulawesi Selatan (Hutomo 1985 dalam Rizal 1996).

  1. 6. Hasil Tangkapan

Hasil tangkapan dari pakaja adalah ikan terbang (flying fish) dan ikan torani (Rizal 1996).

DAFTAR PUSTAKA

Diniah. 2008. Pengenalan Perikanan Tangkap. Bogor: Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.

Subani W dan HR Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang di Indonesia .Jurnal Penelitian Perikanan Laut vol II No.2. Jakarta: Departemen Pertanian.

Rizal, Karina. 1996. Perikanan Ikan Terbang (flying fish) di Kabupaten Takelan, Sulawesi Selatan. [Skripsi]. Bogor: Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.

Bubu Gurita

December2
  1. 1. Definisi dan Klasifikasi

Bubu gurita adalah alat perangkap yang terbuat dari ban bekas yang telah dipotong untuk menangkap gurita yang terdiri dari bagian badan (body), mulut (funnel), dan pintu (Subani dan Barus 1989).Menurut data Statistik Perikanan Tangkap Indonesia jermal termasuk ke dalam klasifikasi alat tangkap perangkap dan penghadang (traps and guiding barriers) (Diniah 2008).

  1. 2. Konstruksi Alat Penangkapan Ikan

Bubu gurita terdiri dari mulut sebagai pintu masuk target. Adapun badan bubu merupakan tempat terperangkapnya target. Pada bubu gurita terdapat tali pelampung, tali pemberat dan tali utama. Tali utama disesuaikan dengan jumlah yang digunakan, sedangkan tali pelampung disesuaikan dengan kedalaman (Martasuganda 2003). Menurut kelompok kami parameter utamanya adalah mulut bubu.

  1. 3. Kelengkapan dalam Unit Penangkapan Ikan

3.1 Nelayan

Jumlah nelayan dalam pengoperasian bubu gurita berkisar antara 1-2 orang (Martasuganda 2003).

3.2 Kapal

Pengoperasian bubu gurita  bisa dilakukan dengan menggunakan perahu motor (Martasuganda 2003).

3.3 Alat Bantu

Alat bantu penangkapan dengan menggunakan bubu gurita adalah gardan yang bisa terbuat dari bambu, kayu atau besi (Martasuganda 2003).

3.4 Umpan

Dalam pengoperasiannya bubu gurita tidak menggunakan umpan (Martasuganda 2003).

  1. 4. Metode Pengoperasian Alat

Metode pengoperasian bubu gurita pada prinsipnya hampir sama dengan bubu lainnya, hanya saja dalam pengoperasiannya tidak memakai umpan. Lama perendaman tergantung nelayan yang mengoperasikannya sesuai dengan pengalaman, tapi umumnya antara 2-3 hari. Pemasangan dan pengangkatan bubu dilakukan setiap hari pada pagi hari (Martasuganda 2003).

  1. 5. Daerah Pengoperasian

Daerah penangkapan yaitu di daerah yang mempunyai dasar perairan lumpur berpasir, berarus kecil dengan kedalaman antara 5-40 meter (Martasuganda 2003).

  1. 6. Hasil Tangkapan

Hasil tangkapan bubu gurita yaitu gurita jenis Ocellated octopus yaitu Octopus ocelatus, O. vulgaris, O. dofleini, dan jenis lainnya (Martasuganda 2003).

DAFTAR PUSTAKA

Diniah. 2008. Pengenalan Perikanan Tangkap. Bogor: Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.

Martasuganda S.. 2003. Bubu (Traps). Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Subani W dan HR Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang di Indonesia .Jurnal Penelitian Perikanan Laut vol II No.2. Jakarta: Departemen Pertanian.

Bubu Belut

December2
  1. 1. Definisi dan Klasifikasi

Bubu belut adalah alat perangkap yang terbuat dari paralon untuk menangkap belut yang terdiri dari bagian badan (body), mulut (funnel), dan pintu (Subani dan Barus 1989). Menurut data Statistik Perikanan Tangkap Indonesia jermal termasuk ke dalam klasifikasi alat tangkap perangkap dan penghadang (traps and guiding barriers) (Diniah 2008).

  1. 2. Konstruksi Alat Penangkapan Ikan

Bubu belut berbahan paralon yang biasa dipakai untuk pipa air. Pada bubu paralon terdapat pintu masuk yang bisa dibuat dari plastik atau anyaman bambu. Adapun pengikat mulut (pintu masuk) bisa dibuat dari ban dalam bekas. Prameter utama bubu belut adalah mulut bubu (Martasuganda 2003).

  1. 3. Kelengkapan dalam Unit Penangkapan Ikan

3.1 Nelayan

Jumlah nelayan dalam pengoperasian bubu belut berkisar antara 1-2 orang (Martasuganda 2003).

3.2 Kapal

Pengoperasian bubu bisa dilakukan dengan tanpa perahu, dengan perahu tanpa motor atau perahu motor tempel (Martasuganda 2003).

3.3 Alat Bantu

Alat bantu penangkapan bubu belut adalah gardan yang bisa terbuat dari bambu, kayu atau besi (Martasuganda 2003).

3.4 Umpan

Dalam pengoperasiannya bubu belut menggunakan umpan. Umpan yang dipakai dapat berupa umpan hidup seperti cacing, irisan daging ikan, atau ikan rucah (Martasuganda 2003).

  1. 4. Metode Pengoperasian Alat

Pemasangan bubu belut di perairan bisa dipasang satu demi satu kemudian diuntai atau dipasang dua atau tiga buah bubu dalam satu ikatan, kemudian dipasang dengan cara diuntai dengan jarak satu dengan yang lain 5-6 meter. Metode pengoperasiannya adalah dengan cara memasang bubu di perairan yang diperkirakan banyak ikan target tangkapan baik secara tunggal maupun dipasang secara beruntai. Pemasangan bubu dilakukan menjelang matahari terbenam dan diangkat keesokan harinya pada pagi hari. Jumlah bubu yang akan dipasang sebaiknya disesuaikan dengan besar kecilnya perahu dan kemampuan nelayan  (Martasuganda 2003).

  1. 5. Daerah Pengoperasian

Daerah penangkapan dari bubu belut adalah perairan pantai yang dasar perairannya berlumpur, lumpur bercampur pasir atau perairan yang banyak dihuni oleh ikan target, muara sungai, atau danau  (Martasuganda 2003).

  1. 6. Hasil Tangkapan

Hasil tangkapan bubu belut yaitu di antaranya adalah ikan lindung (Monopterus albus), Sea eel, Conger eel, dan sejenisnya  (Martasuganda 2003).

DAFTAR PUSTAKA

Diniah. 2008. Pengenalan Perikanan Tangkap. Bogor: Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.

Subani W dan HR Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang di Indonesia .Jurnal Penelitian Perikanan Laut vol II No.2. Jakarta: Departemen Pertanian.

Martasuganda S.. 2003. Bubu (Traps). Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor. Bogor

Bubu Lipat Bundar

December2
  1. 1. Definisi dan Klasifikasi

Bubu lipat bundar adalah alat perangkap yang berbentuk bundar terdiri dari bagian badan (body), mulut (funnel), dan pintu serta konstruksi alatnya dapat dilipat sehingga mempermudah untuk dibawa ke berbagai tempat (Subani dan Barus 1989). Menurut data Statistik Perikanan Tangkap Indonesia jermal termasuk ke dalam klasifikasi alat tangkap perangkap dan penghadang (traps and guiding barriers) (Diniah 2008).

  1. 2. Konstruksi Alat Penangkapan Ikan

Bubu lipat bundar memiliki tiga pintu yang berbentuk bulat. Jaring yang digunakan adalah PE multifilament. Diantara kerangka bagian atas dan bawah terdapat dua penyangga dari besi untuk menegakkan bubu. Pada penyangga tersebut terdapat engred yang dapat menghubungkan kedua tersebut. Bubu lipat silinder juga dilengkapi dengan tempat umpan. Parameter bubu lipat bundar adalah pada bagian mulutnya (Butarbutar 2005).

  1. 3. Kelengkapan dalam Unit Penangkapan Ikan

3.1 Nelayan

Jumlah nelayan dalam pengoperasian bubu lipat bundar sama dengan bubu lipat persegi yaitu 2-3 orang.dimana 2 orang bertugas untuk meletakkan bubu dan mengikatkannya pada pelampung dan satu orang mengawasi dari kapal dalam pemasangan bubu atau pelampung (Subani dan Barus 1989).

3.2 Kapal

Kapal yang digunakan biasanya kapal jukung atau rakit. Kapal tersebut digunakan sebagai alat transportasi dari darat ke laut (daerah tempat pemasangan bubu) dan membawa hasil tangkapan (Subani dan Barus 1989).

3.3 Alat Bantu

Alat bantu dalam pengoperasian bubu yaitu rumpon yang berfungsi dalam pengumpulan ikan agar berada di sekitar bubu dan ember yang berfungsi dalam mengumpulkan hasil tangkapan serta penggunaan pelampung untuk membantu dalam pemasangan bubu, dengan tujuan agar memudahkan mengetahui tempat-tempat dimana bubu dipasang (Subani dan Barus 1989).

3.4 Umpan

Untuk bubu lipat bundar umpan yang digunakan adalah ikan rucah yang disatukan bersama-sama kelapa yang dibakar agar mengeluarkan aroma sehingga ikan tertarik untuk mendekati umpan tersebut (Subani dan barus 1989).

  1. 4. Metode Pengoperasian Alat

Dalam pengopersiannya, terlebih dahulu pada bubu di pasang umpan berupa  ikan rucah yang menimbulkan aroma bagi ikan target tangkapan kemudian umpan tersebut dibungkus dalam kain kelambu atau transparan lalu diletakan pada bagian sudut atau tengah dari bubu tersebut. selanjutnya bubu lipat bundar tersebut dirangkai dengan tali panjang yang diberi pelampung agar nelayan mengetahui posisi bubu berada kemudian bubu diletakkan di daerah operasi penangkapan, lalu bubu ditinggalkan selama 1 hari (Subani dan barus 1989).

  1. 5. Daerah Pengoperasian

Daerah penangkapan (Fishing ground) yaitu pada pesisir pantai, sekitar Totopake, Batununggul dan Suana (Subani dan Barus 1989).

  1. 6. Hasil Tangkapan

Hasil tangkapannya dapat berupa udang-udangan, kepiting dan ikan karang atau ikan demersal (Subani dan Barus 1989).

DAFTAR PUSTAKA

Butarbutar, Donna NP. 2005. Perbandingan Hasil Tangkapan Rajungan dengan Menggunakan Dua Konstruksi Bubu Lipat yang Berbeda di Kabupaten Tangerang. [Skripsi]. Bogor: Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.

Diniah. 2008. Pengenalan Perikanan Tangkap. Bogor: Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.

Subani W dan HR Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang di Indonesia .Jurnal Penelitian Perikanan Laut vol II No.2. Jakarta: Departemen Pertanian.

Bubu Lipat Persegi

December2
  1. 1. Definisi dan Klasifikasi

Bubu lipat persegi adalah alat perangkap yang berbentuk persegi terdiri dari bagian badan (body), mulut (funnel), dan pintu serta konstruksi alatnya dapat dilipat sehingga mempermudah untuk dibawa ke berbagai tempat (Subani dan Barus 1989). Menurut data Statistik Perikanan Tangkap Indonesia bubu lipat persegi termasuk ke dalam klasifikasi alat tangkap perangkap dan penghadang (traps and guiding barriers) (Diniah 2008).

  1. 2. Konstruksi Alat Penangkapan Ikan

Rangka terdiri dari dua pintu yang seluruhnya memakai rangka dari besi behel berdiameter 0,8 cm. Badan jaring yang digunakan berbahan PE (Polyethilen) multifilament, dengan mesh size 2,0 inc. Kantong umpan bubu dua pintu terbuat dari bahan kawat kasa (Martasuganda 2003).

Pada bagian atas bubu, badan bubu dibagi menjadi dua dan pada pertengahan terdapat engsel dari besi yang berfungsi sebagai penyangga bubu agar dapat berdiri ketika dioperasikan sekaligus dapat membuat bubu menjadi terlipat ketika tidak digunakan (Butarbutar 2005). Parameter utama dari bubu lipat persegi adalah mulut bubu. Mulut bubu tersebut dapat memudahkan hasil tangkapan dan menyulitkan untuk keluar. Mulut bubu lipat persegi berbentuk horizontal pada bagian belakang dan depan bubu (Butarbutar 2005). Menurut kelompok kami parameter utamanya adalah mulut bubu.

  1. 3. Kelengkapan dalam Unit Penangkapan Ikan

3.1 Nelayan

Jumlah nelayan dalam pengoperasian bubu lipat persegi biasanya 2-3 orang. Dimana 2 orang bertugas untuk meletakkan bubu dan mengikatkannya pada pelampung dan satu orang mengawasi dari kapal dalam pemasangan bubu atau pelampung (Subani dan Barus 1989).

3.2 Kapal

Kapal digunakan sebagai alat transportasi dari darat ke laut (daerah tempat pemasangan bubu) dan membawa hasil tangkapan.kapal yang digunakan biasanya kapal jukung atau rakit (Subani dan Barus 1989).

3.3 Alat Bantu

Alat Bantu dalam pengoperasian bubu yaitu umpan yang diletakkan di dalam bubu yang akan dioperasikan dan umpan tersebut dibuat sesuai dengan jenis ikan ataupun udang yang menjadi tujuan penangkapan, rumpon yang berfungsi dalam pengumpulan ikan agar berada di sekitar bubu dan ember yang berfungsi dalam mengumpulkan hasil tangkapan serta penggunaan pelampung untuk membantu dalam pemasangan bubu, dengan tujuan agar memudahkan mengetahui tempat-tempat dimana bubu dipasang (Subani dan Barus 1989).

  1. 4. Metode Pengoperasian Alat

Dalam operasional penangkapan menggunakan bubu bisa tunggal atau ganda yang dalam pengoperasiannya pengait pintu dibuka kemudian di pasang umpan berupa  ikan (yang berbau menyengat) tusukkan pada besi umpan sebanyak 2 sampai 4 ikan (Proporsional) atau udang , selanjutnya pintu bubu ditutup dan bubu lipat tersebut dirangkai dengan tali panjang yang diberi pelampung agar nelayan mengetahui posisi bubu berada kemudian bubu diletakkan di daerah operasi penangkapan, lalu bubu ditinggalkan untuk kemudian diambil 2-3 hari setelah dipasang, kadang hingga beberapa hari (Subani dan Barus 1989).

  1. 5. Daerah Pengoperasian

Operasi penangkapan biasanya dilakukan 1-2 mil dari pantai atau di perairan karang dan bebatuan seperti Sumber Sewu di Selat Bali (Subani dan Barus 1989).

  1. 6. Hasil Tangkapan

Hasil tangkapan bubu lipat, yakni jenis-jenis udang seperti rajungan, kepiting totol (Scylla sp )ataupun kerang darah (Anadara granosa )dan lobster.

DAFTAR PUSTAKA

Butarbutar, Donna NP. 2005. Perbandingan Hasil Tangkapan Rajungan dengan Menggunakan Dua Konstruksi Bubu Lipat yang Berbeda di Kabupaten Tangerang. [Skripsi]. Bogor: Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.

Martasuganda S.. 2003. Bubu (Traps). Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Diniah. 2008. Pengenalan Perikanan Tangkap. Bogor: Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.

Subani W dan HR Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang di Indonesia .Jurnal Penelitian Perikanan Laut vol II No.2. Jakarta: Departemen Pertanian.

Bubu Udang

December2
  1. 1. Definisi dan Klasifikasi

Bubu merupakan alat tangkap yang umum dikenal nelayan. Variasi bentuknya banyak sekali, hampir di setiap daerah perikanan mempunyai model bentuk sendiri. Bentuk bubu ada yang seperti sangkar (eages), silinder (cylindrical), gendang, segitiga memanjang (kubus) atau segi banyak, bulat setengah lingkaran, dll. Bahan bubu umumnya dari anyaman bambu. Secara garis besar bubu terdiri dari bagian-bagian badan (body), mulut (funnel) atau ijeb, pintu (Subani dan Barus 1989).

Untuk menangkap udang barong digunakan bubu khusus yaitu bubu silindris dan bubu bulat setengah lingkaran dengan mulut ditengah-tengah atas. Semetara untuk udang penaeid, kepiting/rajungan dapat ditangkap dengan bubu udang yang bahan-bahannya terbuat dari plastik (Subani dan Barus 1989). Menurut data Statistik Perikanan Tangkap Indonesia bubu udang termasuk ke dalam klasifikasi alat tangkap perangkap dan penghadang (traps and guiding barriers) (Diniah 2008).

  1. 2. Konstruksi Alat Penangkapan Ikan

Bubu udang memiliki rangka yang terbuat dari besi behel pada bagian bawah dan pada bagian atas terbuat dari bambu. Rangka ini beerfungsi sebagai penegak. Bahan jaring terbuat dari jaring sintetis multifilament. Kantung umpan terbuat dari bahan kawat kasa berfungsi sebagai tempat umpan. Adapun tali yang digunakan adalah tali pelampung, tali utama, dan tali pemberat. Semuanya berbahan tambang (Martasuganda 2003). Menurut kelompok kami parameter utamanya adalah mulut bubu.

  1. 3. Kelengkapan dalam Unit Penangkapan Ikan

3.1 Nelayan

Nelayan yang terlibat dalam pengoperasian bubu udang biasanya 2 sampai 3 orang, tergantung banyaknya unit atau jaring yang dipakai (Subani dan Barus 1989).

3.2 Kapal

Menurut kelompok kami, perahu yang biasa digunakan nelayan dalam pengoperasian bubu udang adalah perahu kecil yang terbuat dari kayu. Perahu berfungsi sebagai alat transportasi nelayan menuju ke fishing ground maupun ke fishing base dan juga berfungsi untuk mengangkut hasil tangkapan.

3.3 Umpan

Untuk bubu udang umpan yang digunakan adalah ikan rucah yang disatukan bersama-sama kelapa yang dibakar agar mengeluarkan aroma sehingga ikan tertarik untuk mendekati umpan tersebut (Subani dan Barus 1989).

  1. 4. Metode Pengoperasian Alat

Pemasangan atau penanaman perangkap ini menyerupai bangunan yang membentuk setengah lingkaran dengan darat pantai. Bahan yang digunakan bisa dnegan jaring (net), kere bambu ataupun susuna batu. Prinsip penangkapan ini ialah mengahdang ikan atau biota laut lainnya yaitu pada waktu pasang mendekat pantai dan waktu surut menjauhi pantai. Pengambilan hasil dilakukan pada waktu air surut dalam keadaan kering, setengah kering atau mungkin masih tergenang air (Subani dan Barus 1989).

  1. 5. Daerah Pengoperasian

Daerah pengoperasian bubu udang biasanya di Kep. Seribu, Bali, dan Lombok (Subani dan Barus 1989).

  1. 6. Hasil Tangkapan

Hasil tangkapan utama bubu udang adalah udang barong. Sedangkan hasil tangkapan sampingannya adalah jenis-jenis Molusca (Subani dan Barus 1989).

DAFTAR PUSTAKA

Diniah. 2008. Pengenalan Perikanan Tangkap. Bogor: Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.

Martasuganda S.. 2003. Bubu (Traps). Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Subani W dan HR Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang di Indonesia .Jurnal Penelitian Perikanan Laut vol II No.2. Jakarta: Departemen Pertanian.

Bubu Tambun

December2
  1. 1. Definisi dan Klasifikasi

Menurut kelompok kami, bubu tambun adalah alat tangkap yang terbuat dari bambu berbentuk segi lima sebagai perangkap hasil tangkapan.

Menurut data Statistik Perikanan Tangkap Indonesia bubu tambun termasuk ke dalam kelompok perangkap dan penghadang (Diniah, 2008).

  1. 2. Konstruksi Alat Panangkapan Ikan

Bubu terdiri dari bagian-bagian badan (body), mulut (funnel) atau ijeh, pintu.  Badan (body) berupa rongga, tempat dimana ikan-ikan terkurung. Mulut (funnel) berbentuk seperti corong, merupakan pintu dimana ikan dapat masuk tidak dapat keluar. Pintu merupkan bagian tempat pengambilan hasil tangkapan (Taufiq 2008).

Menurut kelompok kami, parameter utama dari bubu tambun adalah lebar mulut (funnel).

  1. 3. Kelengkapan dalam Unit Penangkapan Ikan

3.1 Kapal

Kapal yang biasa digunakan dalam pengoperasian bubu tambun adalah perahu tanpa motor, kapal motor tempel, atau perahu layar. Perahu tanpa motor, kapal motor tempel, atau perahu layar biasanya digunakan sebagai sarana transportasi nelayan menuju fishing ground dan untuk menyimpan hasil tangkapan utamanya di keramba ppenampungan (Susanti, 2009).

3.2 Nelayan

Menurut kelompok kami, nelayan yang mengoperasikan bubu tambun hanyalah satu orang saja.

3.3 Alat Bantu

Alat bantu penangkapan yang dipersiapkan meliputi kacamata selam, ganco, dan ember untuk membantu kelancaran operasi bubu tambun (Susanti, 2009).

3.4 Umpan

Umpan yang biasa digunakan untuk pengoperasian bubu tambun adalah udang, gonad bulu babi dan ikan rucah. Disesuaikan dengan jenis ikan atau udang yang akan menjadi tujuan penangkapan (Taufiq 2009).

  1. 4. Metode Pengoperasian

Pengoperasian bubu dilakukan pada siang hari mengikuti pola pasang surut (Susanti, 2009). Pemasangan bubu ada yang di pasang satu demi satu (pemasangan tunggal) ada juga yang dipasang secara beruntai (pemasangan sistem rawai) (Martasuganda 2003 dalam Susanti 2009). Pengoperasian bubu tambun dimulai dari tahap pemasangan bubu (setting) di perairan. Posisi bubu diletakkan dengan mulut tegak lurus dengan pantai. Peletakkan mulut bubu yang menghadap pantai dimaksudkan untuk mengikuti pola migrasi ikan. Bubu kemudian ditimbun dengan batu karang, baik yang hidup maupun yang mati. Setelah itu nelayan akan membuat jalan ikan pada daerah sekitar mulut bubu. Benda-benda yang menghalangi mulut bubu akan disingkirkan sehingga ikan akan mudah masuk ke dalam mulut bubu (Susanti, 2009). Perendaman bubu dapat dilakukan selama satu malam, tiga hari, dan bahkan sampai satu minggu (Martasuganda 2003 dalam Susanti 2009). Setelah melalui proses perendaman, bubu kemudian diangkat (lifting). Proses pengangkatan bubu dibantu dengan alat ganco untuk memudahkan nelayan mengangkat bubu di perairan (Susanti, 2009).

  1. 5. Daerah Pengoperasian

Bubu tambun merupakan jenis alat tangkap yang dioperasikan di daerah dasar perairan. Alat tangkap seperti bubu tambun ini banyak digunakan di daerah Kepulauan Seribu, Ambon dan Banda (Subani 1989).

  1. 6. Hasil Tangkapan

Hasil tangkapan dari bubu tambun dapat berupa ikan selar kuning (Caranx leptolepis), peperek (Leiognathus sp.), ikan kakap (Lutjanus sp.), cumi-cumi (Loligo sp.), sotong (Sepia sp.), dan udang dogol (Metapenaeus ensis) (DKP 2005).

DAFTAR PUSTAKA

[DKP] Dinas Kelautan dan Perikanan.  2005.  Bubu. http://pipp.dkp.go.id/pipp2/alat_tangkap.html?idkat_api=7&idapi=25.  [22 Oktober 2009]

Subani W dan HR Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang di Indonesia. Jurnal Penelitian Perikanan Laut vol II No.2. Jakarta: Departemen Pertanian.

Susanti, Yustina. 2005. Pengoperasian Bubu Tambun dan Kerusakan Terumbu Karang yang Diakibatkannya di Pulau Harapan, Kepulauan Seribu [Skripsi]. Bogor: Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan FPIK IPB.

Taufiq. 2009. Bubu. fiqrin.files.wordpress.com. [16 November 2009]

Encircling Gill Net

December2
  1. 1. Definisi dan Klasifikasi

Jaring insang melingkar (encircling gill nets) yaitu gill nets yang dalam operasinya melingkari atau menghadang arah larinya ikan (Sadili 1984). Menurut data Statistik Perikanan Tangkap Indonesia jaring insang melingkar termasuk ke dalam kelompok gill nets (Diniah, 2008).

  1. 2. Konstruksi Alat Panangkapan Ikan

Alat tangkap ini terdiri atas badan jaring sebagai alat pengumpul atau bagian yang membuat ikan tersangkut yang terbuat dari bahan nylon, pelampung untuk mengatur agar jaring tetap terentang di permukaan air, pemberat agar jaring bisa hanyut ke perairan, tali ris atas berfungsi sebagai tempat dipasangnya pelampung, dan tali selambar yang menghubungkan jaring ke kapal (Ayodhyoa 1981 dalam Irawati 1994).

Menurut kelompok kami, parameter utama dari alat tangkap ini adalah ukuran mata jaring dan ukuran jaring.

  1. 3. Kelengkapan dalam Unit Penangkapan Ikan

3.1 Kapal

Perahu yang digunakan untuk pengoperasian encircling gill nets adalah perahu kayu tipe compreng yakni perahu yang terbuat dari bilah-bilah kayu. Harus mempunyai kestabilan yang tinggi, karena beban gaya akan bertumpu pada salah satu sisi perahu sewaktu operasi penangkapan ikan berlangsung. Konstruksi perahu agak khusus yaitu mempunyai tiang penyangga tempat nahkoda mengintai gerombolan ikan (Sadili 2007).

3.2 Nelayan

Biasanya dalam setiap trip operasi terdiri dari 7-12 orang yang terdiri dari juru mudi yang bertugas sebagai pemegang kemudi kapal, fishing master yang merangkap teknisi mesin dan sisanya adalah ABK yang bertugas dalam pengoperasian alat tangkap (Suharto 2003).

  1. 4. Metode Pengoperasian

Teknis operasi terdiri atas: tahap persiapan, menuju daerah fishing ground, penurunan jaring (setting), perendaman jaring (drifting), penarikan jarring (hauling) dan penanganan hasil tangkapan. Tahap persiapan meliputi pemeriksaan kondisi perahu, pemeriksaan alat tangkap, persiapan pebekalan berupa bahan bakar minyak (BBM), es, air tawar. Kemudian perahu berangkat dari pelabuhan (fishing base) menuju daerah penangkapan ikan (fishing ground) dengan dipimpin langsung oleh juru mudi.

Setting atau penawuran jaring dilakukan setelah menemukan fishing ground. Penawuran jaring dilakukan pada malam hari, dalam satu hari dilakukan satu kali setting. Penawuran jarring memerlukan waktu 1-2 jam. Penawuran jaring biasanya dimulai dengan penurunan pelampung tanda, lembaran atau badan jarring sampai pada pelampung bola yang terakhir.

Jaring dilakukan dengan mengikuti arah arus atau angin. Apabila semua lembaran jaring telah turun, mesin kapal dimatikan dan melakukan drifting kurang lebih 5-9 jam. Hauling biasanya menghabiskan waktu 2-3 jam. Penarikan dilakukan lembar demi lembar, dimulai dari yang paling dekat  kapal sampai lembar terakhir.

(Suharto 2003).

  1. Daerah Pengoperasian

Encircling gillnet merupakan jenis alat tangkap yang dioperasikan di daerah permukaan wilayah perairan. Alat tangkap seperti encircling gillnet ini banyak digunakan di pantai Utara Jawa (Genisa 1998).

  1. 6. Hasil Tangkapan

Hasil tangkapan dari encircling gillnet dapat berupa ikan tongkol (Auxis sp.), ikan kembung lelaki (Rastreliger kanagurta), bawal putih (Pampus argentus), ikan kakap (Lutjanus sp.) dan ikan layang (Decapterus sp.) (Genisa 1998).

DAFTAR PUSTAKA

Diniah. 2008. Pengenalan Perikanan Tangkap. Bogor: Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan FPIK IPB.

[DKP] Dinas Kelautan dan Perikanan.  2005.  Jaring Insang Lingkar. http://pipp.dkp.go.id/pipp2/alat_tangkap.html?idkat_api=4&idapi=9.  [22 Oktober 2009]

Genisa AS.  1998.  Beberapa Catatan tentang Alat Tangkap Ikan Pelagik Kecil. Jurnal. Oseana, Volume XXIII, Nomor 3 & 4, 1998 : 19-34

Kurniawan. 2007. Rancang Bangun Bottom Gill Nets di Kec.Cilacap Jateng. [Skripsi]. Bogor: Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan FPIK IPB.

Sadili, Didi. 1984. Analisa Usaha Perikanan “Encircling Gill Nets” dan “Trammel Nets”. [Skripsi]. Bogor: Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan FPIK IPB.

Suharto, Ruban. 2003. Efisiensi Teknis Ekonomis Usaha Penangkapan Ikan Pelagis Besar dengan Alat Tangkap Gill Net. [Skripsi]. Bogor: Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan FPIK IPB.

Bottom Gill Net

December2
  1. 1. Definisi dan Klasifikasi

Jaring insang dasar yaitu gill nets yang kedua jaringnya dihubungkan dengan jangkar, sedangkan tali ris atas dihubungkan dengan pelampung-pelampung. Kedua jangkar tersebut mengatur agar jaring tetap terendang di dasar perairan (Sadili 1984).

Menurut data Statistik Perikanan Tangkap Indonesia jaring insang dasar termasuk ke dalam kelompok gill nets (Diniah, 2008).

  1. 2. Konstruksi Alat Panangkapan Ikan

Pada umumnya yang disebutkan dengan gill net dasar ialah jaring dengan bentuk empat persegi panjang, mempunyai mata jaring yang sama ukurannya pada seluruh jaring, lebar jaring lebih pendek jika dibandingkan dengan panjangnya, dengan perkataan lain, jumlah mesh depth lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah mesh size pada arah panjang jaring.

Pada lembaran-lembaran jaring, pada bagian atas dilekatkan pelampung (float) dan pada bagian bawah dilekatkan pemberat (sinker). Dengan menggunakan dua gaya yang berlawanan arah, yaitu bouyancy dari float yang bergerak menuju keatas dan sinking force dari sinker ditambah dengan berat jaring didalam air yang bergerak menuju kebawah, maka jaring akan terentang.

Pada kedua ujung jaring diikatkan jangkar, yang dengan demikian letak jaring akan telah tertentu. Karena jaring ini direntang pada dasar laut, maka dinamakan bottom gill net, yang demikian berarti jenis-jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan ialah ikan-ikan dasar (bottom fish) ataupun ikan-ikan damersal. Posisi jaring dapat diperkirakan pada float berbendera atau bertanda yang dilekatkan pada kedua belah pihak ujung jaring, tetapi tidaklah dapat diketahui keadaan baik buruknya rentangan jaring itu sendiri.

Pengenalan bahan jaring sintetis dengan mutu yang tinggi telah merangsang perkembangan pemakaian alat ini. Hal ini disebabkan efisiensi penangkapan yang jauh lebih baik yakni 2-13 kali lebih tinggi pada PA monofillament yang transparant (jernih) dibanding dengan bahan serat alami (kapas, rami, rami halus).

PA continous filament adalah bahan yang paling lunak dari semua bahan sintetis dalam kondisi basah, warna putih mengkilat yang alami adalah jauh lebih terlihat dalam air jernih. Warna hijau, biru, abu-abu dan kecoklatan merupakan warna-warna yang nampak digunakan paling umum pada perikanan komersial.

(Sadili 1984).

  1. 3. Kelengkapan dalam Unit Penangkapan Ikan

3.1 Kapal

Jenis kapal yang digunakan dalam pengoperasian bottom gill nets yaitu berbentuk jukung yang terbuat dari bahan fiber dan di lengkapi dengan katir yang terbuat dari bambu yang disambung, dimana yang di sambung tersebut terbuat dari bahan fiber yang dilengkungkan. Kapal jukung yang di gunakan berukuran panjang 8,67 m, lebar 1,1 m, tinggi 0,7 m dan draft 0,25 m. haluan kapal berbentuk “V” dan bagian tengah sampai buritan berbentuk berbentuk uyang mempermudah pada saat hauling (Kurniawan 2007).

3.2 Nelayan

Jumlah nelayan dalam pengoperasian bottom gillnet adalah 2-3 orang. Dimana 1 orang sebagai pengemudi kapal dan yang lainnya menurunkan alat pada saat setting dan hauling (Kurniawan 2007).

  1. 4. Metode Pengoperasian

Operasi pengkapan dimulai pada sat berangkat dari fishing base ke fishing ground. Setelah tiba di fishing ground, nelayan mulai menurunkan bottom gill nets melalui 3 tahap yaitu penurunan alat (setting) dilakukan setelah nelayan yakin bahwa daerah tersebut adalah daerah penangkapan ikan. Penurunan jaring di lakukan dengan tangan.

Tahap ke dua adalah perendaman jaring (soaking).waktu yang di perlukan untuk prendaman sekitar ½ – 1 jam, semakin lama waktu perendaman maka semakin besar peluang terjeratnya ikanoleh jaring.

Tahap ketiga adalah pengangkutan jaring ke atas kapal (hauling) yang dilakukan dengan tangan dan tanpa alat bantu. Kemudian hasil tangkapan yang di dapat di masukkan ke dalam drum yang sudah disiapkan (Kurniawan 2007).

  1. 5. Daerah Pengoperasian

Bottom gillnet merupakan jenis alat tangkap yang dioperasikan di daerah dasar wilayah perairan. Alat tangkap bottom gillnet banyak digunakan di wilayah perairan Aceh dan Sulawesi Utara (Walhi 2009).

  1. 6. Hasil Tangkapan

Hasil tangkapan dari bottom gillnet dapat berupa ikan cucut (Carcharinus sp.), ikan sebelah (Psetodes erumei), peperek (Leiognathus sp.), bawal hitam (Formio niger), bawal putih (Pampus argentus) dan rajungan (Portunus pelagicus) (DKP 2005).

DAFTAR PUSTAKA

Diniah. 2008. Pengenalan Perikanan Tangkap. Bogor: Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan FPIK IPB.

[DKP] Dinas Kelautan dan Perikanan.  2005.  Jaring Insang Tetap. http://pipp.dkp.go.id/pipp2/alat_tangkap.html?idkat_api=4&idapi=11.  [22 Oktober 2009]

Kurniawan. 2007. Rancang Bangun Bottom Gill Nets di Kec.Cilacap Jateng. [Skripsi]. Bogor: Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan FPIK IPB.

Sadili, Didi. 1984. Analisa Usaha Perikanan “Encircling Gill Nets” dan “Trammel Nets”. [Skripsi]. Bogor: Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan FPIK IPB.

Walhi. 2009. Pemberantasan Illegal Logging tak Konsisten.  http://www.walhiaceh.org. [22 Oktober 2009]

« Older Entries